Saturday, March 1, 2014

Macam-Macam Insulin dan Cara Kerja dalam Tubuh

Pada tabel Insulin dibawah, dikelompokkan berbagai insulin dan cara kerjanya dalam tubuh sesuai dengan deskripsinya. Sebagai keterangan, insulin injeksi dengan data;

  • onset  (lamanya waktu yang dibutuhkan untuk insulin mencapai darah dan mulai menurunkan kadar gula darah)
  • peak  (periode waktu dimana insulin paling efektif menurunkan gula darah)
  • duration (berapa lama insulin terus menurunkan kadar gula darah). 

Ketiga faktor diatas mungkin bervariasi, tergantung respon tubuh seseorang. Kolom terakhir menjelaskan bagaimana hubungan jenis insulin dengan waktu makan.

Berikut tabel macam-macam insulin dan cara kerja dalam tubuh

Jangka waktu antara memakai insulin dan makan mungkin bervariasi tergantung pada jenis insulin yang digunakan. Pada table di atas, data onset adalah informasi yang berguna kapan insulin bekerja di dalam tubuh bersamaan dengan waktu makan. Penentuan waktu ini membantu mencegah kadar gula darah terlalu rendah.

Insulin dan Diabetes Melitus

Insulin adalah hormon alami yang di produksi oleh pankreas. Insulin ini bertujuan untuk mengubah dan menggunakan glukosa darah (gula darah) dibutuhkan oleh sel tubuh. Untuk menjalankan fungsinya, insulin ini membutuhkan energi yang dibuat oleh sel-sel dalam tubuh. Pasien diabetes melitus (kencing manis) tidak memiliki kemampuan untuk mengambil dan menggunakan gula darah, sehingga kadar gula darah meningkat. Pada diabetes melitus tipe I, pankreas tidak dapat memporduksi insulin. Sehingga pemberian insulin diperlukan.

Pada diabetes melitus tipe 2, pasien dapat memproduksi insulin, akan tetapi sel tubuh tidak merespon insulin dengan normal. Namun demikian, penggunaan insulin terhadap diabetes melitus tipe 2 yaitu untuk mengatasi resistensi sel terhadap insulin itu sendiri. Dengan peningkatan pengambilan glukosa oleh sel dan menurunnya kadar gula darah, akan mencegah dan mengurangi komplikasi lebih lanjut dari diabetes, seperti kerusakan pembuluh darah, mata, ginjal, dan saraf.

Insulin diberikan dengan cara disuntikan di bawah kulit (subkutan). Jaringan subkutan perut adalah yang terbaik karena penyerapan insulin lebih konsisten dibanding tempat lainnya. Terdapat banyak bentuk insulin. Insulin dikasifikasikan berdasarkan dari berapa cepat insulin mulai bekerja dan berapa lama  insulin bekerja.

Tipe insulin terdiri dari : 

  1. Aksi cepat (rapid acting) 
  2. Aksi pendek short acting) 
  3. Aksi menengah (intermediate acting) 
  4. Aksi lama (long-acting) 
  5. Campuran (Pre-mixed) 
Pemilihan tipe insulin tergantung pada beberapa faktor, yaitu :

  1. Respon tubuh individu terhadap insulin (berapa lama menyerap insulin ke dalam tubuh dan tetap aktif di dalam tubuh sangat bervariasi dari setiap individu)
  2. Pilihan gaya hidup seperti : jenis makanan, berapa banyak konsumsi alcohol, berapa sering berolah raga, yang semuanya mempengaruhi tubuh untuk merespon insulin.
  3. Berapa banyak suntikan per hari yang ingin dilakukan.
  4. Berapa sering melakukan pengecekan kadar gula darah.
  5. Usia 
  6. Target pengaturan gula darah.

Wednesday, February 26, 2014

Tujuan Pengobatan Diabetes Melitus

Diabetes Melitus (DM) menjadi salah satu masalah kesehatan yang berdampak pada produktivitas. Penyakit ini dapat menurunkan potensi Sumber Daya Manusia di suatu negara. Penyakit ini tidak hanya berpengaruh secara individu, tetapi system kesehatan secara massal bahkan harus menjadi perhatian kesehatan suatu Negara.

Penyakit diabetes melitus merupakan salah satu penyakit yang sulit untuk disembuhkan secara total dan juga merupakan salah satu penyakit degeneratif, dimana terjadi gangguan metabolisme karbohidrat, protein dan lemak serta ditandai dengan tingginya kadar gula dalam darah (hiperglikemia) dan dalam urin (glukosuria). Namun hingga saat ini upaya penganggulangan penyakit diabetes melitus dalam pelayanan kesehatan masih belum menempati skala prioritas utama, walaupun telah diketahui cukup besarnya dampak "negatif" yang ditimbulkan oleh penyakit ini, antara lain hipertensi, otak, komplikasi kronik pada penyakit jantung kronis, hati, mata, system saraf dan ginjal.


Tujuan pengobatan diabetes pada dasarnya adalah mengontrol glikemi atau gula darah hingga mencapai kadar gula yang mendekati normal (kadar gula darah orang sehat). Namun, di tengah pengobatan ini harus dicegah terjadinya hipoglikemi atau kadar gula darah yang terlalu rendah. Bila tujuan tersebut tidak dicapai maka penderita diabetes akan merasa lebih sehat dan menikmati kualitas hidup yang lebih baik. Selain itu, timbulnya komplikasi yang serius dan mengancam jiwa penderita dapat dicegah. 

Pengobatan diabetes harus dikelola melalui beberapa tahapan yang paling terkait. Pengelolaan diabetes ini meliputi edukasi, perencanaan makan, latihan jasmani, dan penggunaan obat-obatan, baik oral maupun insulin.

Terapi insulin wajib diberikan pada penderita diabetes melitus tipe I. pada penderita diabetes melitus tipe II, sekitar 40 persenya juga harus menjalani terapi insulin. Tes gula darah dapat secara efektif menentukan jumlah insulin yang dibutuhkansetiap harinya. Terapi insulin yang dianjurkan adalah saat pagi hari sebelum sarapan, dua jam setelah makan, dan malam hari sebelum tidur. Selain itu, diperlukan pula pengukuran pada saat tertentu, misalnya pengukuran yang lebih ketat jika terjadi hipoglikemi, saat sebelum olah raga, dan pada kehamilan. Pengobatan diabetes bisa dikatakan berhasil jika glukosa darah puasa adalah 80 sampai 109 mg/dl, kadar glukosa darah dua jam adalah 80 sampai 144 mg/dl, dan kadar HB A1c kurang dari tujuh persen.pengukuran hemoglobin (Hb) terglikosilasi HBA1c (A1c) adalah cara yang paling akurat untuk menentukan tingkat ketinggian gula darah selama dua sampai tiga bulan terakhir.

Hemoglobin adalah bagian dari sel darah merah yang mengangkut oksigen. Salah satu jenis dari Hb adalah HbA dan HbA1c merupakan subtype spesifik dari HbA. Semakin tinggi kadar glukosa darah, akan semakin cepat HbA1c terbentuk, yang mengakibatkan tingginya kadar HbA1c. HbA1c ini juga merupakan pemeriksaan tunggal terbaik untuk menilai risiko terhadap kerusakan jaringan yang disebabkan oleh tingginya kadar gula darah. Contohnya, pada saraf dan pembuluh darah kecil di mata dan ginjal. Selain itu, juga bisa menilai risiko terhadap komplikasi penyakit diabetes.

Semoga informasi ini bermanfaat untuk kita semua dan semoga kita terbebas dari penyakit diabetes melitusini.